Kamis, 20 Oktober 2016

Proposal KIR Pantai Prigi

LARUNG SEMBUNYO PANTAI PRIGI : SEJARAH LOKAL SEBAGAI POTENSI WISATA BUDAYA KABUPATEN TRENGGALEK


logo








Penulis:
1.    Rita Lutfi Fitriani                     Kelas X Mipa 1
2.    Rizka Yusrina Rahmania         Kelas X Mipa 1
3.    Sahrul Aldi Nugraha                Kelas X Mipa 1



SMA NEGERI 2 TRENGGALEK
Jl. Soekarno-Hatta Gang Siwawan Trenggalek

LEMBAR PENGESAHAN

Karya Ilmiah ini disusun untuk dilombakan di Hicom 2016 LKTI Tingkat SMA/MA se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya.
1.      Judul            : Larung Sembonyo Pantai Prigi: Sejarah Lokal sebagai Potensi Wisata Budaya Kabupaten Trenggalek
2.      Kategori                     : SMA
3.      Anggota Kelompok    :
1)        Rita Lutfi Fitriani                Kelas X Mipa 1
2)        Rizka Yusrina Rahmania     Kelas X Mipa 1
3)        Sahrul Aldi Nugraha            Kelas X Mipa 1

4.      Guru Pembimbing      : Wawan Prasetyo,M.Pd




Trenggalek, 9 Pebruari 2016
Guru Pembimbing                                                                        Ketua Kelompok


Wawan Prasetyo, M.Pd                                                             Rita Lutfi Fitriani           
NIP: -





BAB 1
PENDAHULUAN

Bab I ini membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan.
1.1   Latar Belakang
Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten di propinsi Jawa Timur yang terletak di bagian selatan dari wilayah propinsi Jawa Timur.Kabupaten ini terletak pada kordinat 111o 24’ hingga 112o 11’ bujur timur dan 7o 63’ hingga 8o 34’ lintang selatan.Luas wilayahnya 1.261,40 Km2. Kabupaten Trenggalek mempunyai 14 kecamatan.Tiga kecamatan diantaranya berbatasan langsung dengan laut selatan.Tiga kecamatan tersebut adalah kecamatan Watulimo, Munjungan, dan Panggul.Di kecamatan Watulimo terdapat beberapa daerah yang pantainya sudah tidak asing bagi masyarakat Trenggalek dan sekitarnya.Pantai tersebut diantaranya adalah Pantai Prigi, Pantai Karanggongso, Pantai Damas, Pantai Cengkrong dan lain-lain.
Di kecamatan Watulimo, Pantai Prigi mempunyai ciri khas yang berbeda kalau dilihat dari aspek budayanya.Disana ada upacara adat yang dilaksanakan pada hari Senin Kliwon pada bulan Selo setiap tahun.upacara tersebut disebut dengan upacara larung sembonyo. Konon katanya upacara adat tersebut diadakan secara turun temurun untuk menghormati leluhur pendiri desa tasikmadu dimana pantai prigi berada.Upacara tersebut juga diyakini untuk menjaga keseimbangan dengan alam sekitarnya serta alam semesta.Pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani berkaitan dengan mata pencaharian sebagai nelayan, petani serta merupakan sarana menghormati leluhurnya yang berjasa dalam membuka kawasan teluk Prigi.
Upacara tesebut dilakukan dengan tujuan supaya diberi berkah dan memperoleh hasil laut dan hasil panen yang melimpah. Sesuai dengan keyakinan mereka, masyarakat takut akan tertimpa wabah penyakit atau terkena bencana alam kalau tidak melaksanakan upacara ritual tersebut.
Terlepas dari unsur budayanya tersebut, upacara adat ini bisa menarik para wisatawan untuk datang karena mereka tidak hanya menikmati keindahan alam saja melainkan juga keberagaman budaya yang mungkin tidak ada di daerah para wisatawan tersebut.
Dengan hadirnya banyak wisatakan juga diharapkan kegiatan ekonomi daerah sekitar pantai prigi juga meningkat.Disepanjang jalan menuju daerah Pantai Prigi banyak penjual durian, manggis, dan salak. Hal itu secara otomatis bisa meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat prigi tetapi juga daerah terluar Pantai Prigi seperti kecamatan Durenan atau bahkan kecamatan Bandung kota Tulungagung yang berbatasan langsung dengan kecamatan watulimo yang menjadi akses menuju ke pantai.
Jumlah pengunjung yang hadir ketika ada upacara adat tersebut bisa menjadi promosi wisata secara langsung. Mereka yang datang pasti akanbercerita ke keluarga, teman atau mungkin juga rekan bisnis mereka. Hal itu akan sangat berdampak positif terhadap image yang pantai Prigi miliki, misalnya tentang keadaan geografisnya, keramahan penduduknya, para pegiat ekonomi, nelayan dan lain-lain. Yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka juga akan tahu tentang budaya masyarakat trenggalek dan khususnya masyarakat kecamatan Watulimo atau Pantai Prigi.
Agar image Pantai Prigi tetap terjaga baik supaya para wisatawan akan betah dan senang berkunjung ke Pantai Prigi, masyarakat Watulimo tidak hanya merawat dan menjaga fasilitas saja tetapi juga menyediakan fasilitas yang cukup dan memadai. Sehingga para pengunjung akanmerasa nyaman berada di Pantai Prigi. Ketika mereka akan ke toilet, ke tempat ibadah, mau membeli makanan minuman, atau untuk istirihat mereka seharusnya tidak menemukan kesulitan.
Selain terus merawat dan memperbaiki serta membangun fasilitas di Pantai Prigi, hal yang harus dipertahankan dan terus dilestarikan adalah dengan melestarikan adat istiadat, budaya dan sejarah local pantai prigi.Hal itu bisa menjadi nilai jual karena ketika pengunjung yang berkunjung ke prigi tidak hanya disuguhi dengan keadaan pantai yang indah saja tetapi kegiatan-kegiatan yang bersifat tradisional.Sehingga budaya dan tradisi tetap terjaga seiring dengan berkembangnya zaman dan dengan semakin banyaknya pengunjung yang mana mungkin mereka berasal dari budaya yang berbeda.
Oleh karenaitu penulis menulis tentang Larung Sembonyo Pantai Prigi: Sejarah Lokal sebagai Potensi Wisata Budaya Kabupaten Trenggalek.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk meneliti bagaimana Larung Sembunyo Pantai Prigi sebagai sejarah lokal sebagai tempat yang berpotensi menjadi Wisata Budaya di Kabupaten Trenggalek.

1.3. Tujuan Penulisan
Berangkat dari rumusan masalah tersebut diatas, penulis akan mencoba memahami dan mengerti serta untuk mengetahui secara empiris bagaimana Larung Sembunyo Pantai Prigi sebagai sejarah lokal sebagai tempat yang berpotensi menjadi Wisata Budaya di Kabupaten Trenggalek.
1.4. Manfaat Penulisan
1)      Bagi Penulis
Dari apa yang akan penulis lakukan, kami berharap karya ilmiah ini akan berguna bagi kami sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan kami didalam mata pelajaran di sekolah khususnya pelajaran Bahasa Indonesia. Selain itu kami berharap apa yang akan kami lakukan ini akan membuka wawasan kami khususnya tentang budaya sejarah dan pariwisata lokal sehingga kami mempunyai pemahaman yang akan membuat kami lebih peduli dan peka terhadap lingkungan.
2)      Bagi Pembaca
Setelah pembaca membaca karya  ilmiah ini, penulis berharap hal ini bisa membuat pembaca lebih tertarik untuk tidak hanya berkunjung ke pantai saja untuk refreshing melainkan juga ikut mempromosikannya kepada saudara, atau keluarga dan teman mereka tentang keunggulan pantai Prigi. Penulis juga berharap pembaca juga ikut terlibat didalam usaha pemerintah untuk menjaga kelestarian budaya lokal dan tempat pariwisata khususnya yang ada di Kabupaten Trenggalek.
3)      Bagi Pemerintah
Dari karya ilmiah yang penulis lakukan ini, kami berharap bisa berkontribusi terhadap upaya pemerintah didalam menjaga potensi sejarah budaya lokal. Kami juga berharap pemerintah semakin memperhatikan sejarah-sejarah budaya di pantai-pantai di Trenggalek dan membuat potensi wisata budaya di Trenggalek semakin aman, indah, bersih, dengan fasilitas yang lengkap dan memadai agar para wisatawan merasa nyaman untuk berkunjung ke Kabupaten Trenggalek, khususnya di Pantai Prigi




BAB II
TELAAH PUSTAKA
Bab ini membahas tentang sejarah lokal dan letak geografis Kabupaten Trenggalek serta potensi wisata budayanya.
2.1.Sejarah
Menurut:
1)   Kamus Besar Bahasa Indonesia
Sejarah adalah:
a)    Asal-usul (keturunan) silsilah
b)   Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat, tambo, cerita
c)    Pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau
2)   Aristoteles 
Sejarah adalah satu sistem yang meneliti satu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada masa yang sama, menurut beliau juga sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod, atau bukti-bukti yang konkret.
3)   Moh. Hatta
Sejarah bukan sekadar melahirkan ceritera dari kejadian masa lalu sebagai masalah.Sejarah tidak sekedar kejadian masa lampau, tetapi pemahaman masa lampau yang di dalamnya mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematika pelajaran bagi manusia berikutnya.
4)   Ertis Stern
Sejarah itu timbul dari suatu persoalan yang hidup dan bahkan melayani hidup masyarakat. Karena itu, sejarah akan berubah-ubah bersama dengan berubahnya waktu, harapan, dan pemikiran rasa cemas yang tumbuh kemudian.



2.2.Tradisi
Tradisi menurut  terminologi, seperti yang dinyatakan oleh  Siti Nur  Aryani  dalam karyanya,  Oposisi Pasca Tradisi, tercantum bahwa tradisi  merupakan produk sosial dan hasil dari pertarungan sosial politik yang keberadaannya  terkait dengan manusia.Atau dapat dikatakan pula  bahwa tradisi adalah segala sesuatu yang turun temurun,yang terjadi atas interaksi antara klan yang satu dengan klan yang lain yang kemudian membuat kebiasaan-kebiasaan satu sama lain yang terdapat dalam klan itu kemudian berbaur menjadi satu kebiasaan. Dan apabila interaksi yang terjadi semakin meluas maka kebiasaan dalam klan menjadi tradisi atau kebudayaan dalam suatu ras atau bangsa yang menjadi kebanggaan mereka.

2.3.Kebudayaan
Menurut:
1)        Sir Edward Brnett Taylor
Kebudayaan sebagai kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan,kepercayaan, kesenian, hukum, mora, kebiasaan, dn lain-lain.
2)        Atmadja
Kebudayaan adalah kebudayaan yang timbul sebagai suatu usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya
3)        Dalam Koentjaraningrat, (2003 : 74 ) J.J Honingmann mengatakan bahwa ada tiga wujud kebudayaan, yaitu :
a.    Ideas
Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.Budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun.Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.
b.    Activities
Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri.Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat.Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.
c.    Artifacts
Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik.Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan.Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll.
4)      Dalam Koentjaraningrat. 2003:81) terdapat tujuh unsur kebudayaan menurut C. Kluckhon,  antara lain:
a.    Bahasa
b.    Sistem pengetahuan
c.    Organisasi sosial
d.   Sistem peralatan hidup dan teknologi
e.    Sistem mata  pencarian  hidup
f.     Sistem  religi
g.    Kesenian
2.4.Atraksi dan Daya Tarik Wisata
Menurut Yoeti (1985), sebuah atraksi wisata memiliki daya tarikyang kuat karena wisatawan memiliki harapan atas apa yang dilihat (something to see), apa yang dilakukan (something to do), dan apa yang dibeli (something to buy). Suatu Daya Tarik Wisata dapat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan harus memenuhi syarat-syarat untuk pengembangan daerahnya, menurut Maryani (1991), syarat-syarat tersebut adalah:
a. What to see.
Di tempat tersebut harus ada obyek dan atraksi wisata yang berbeda dengan yang dimiliki daerah lain. Dengan kata lain daerah tersebut harus memiliki daya tarik khusus dan atraksi budaya yang dapat dijadikan “entertainment” bagi wisatawan. What to see meliputi pemandangan alam, kegiatan, kesenian dan atraksi wisata.
b. What to do.
Di tempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat dan disaksikan,harus disediakan fasilitas rekreasi yang dapat membuat wisatawan betah tinggal lama ditempat itu.
c. What to buy.
Tempat tujuan wisata harus tersedia fasilitas untuk berbelanja terutama barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh – oleh untuk di bawa pulang ke tempat asal.

d. What to arrive.
Di dalamnya termasuk aksesibilitas, bagaimana kita mengunjungi daya tarik wisata tersebut, kendaraan apa yang akan digunakan dan berapa lama tiba ketempat tujuan wisata tersebut.

e. What to stay.
Bagaimana wisatawan akan tingggal untuk sementara selama dia berlibur. Diperlukan penginapan - penginapan baik hotel berbintang atau hotel non berbintang dan sebagainya.

2.4.1        Fasilitas Pariwisata
Jansen - Verbeke (1995) dalam Rahmawati (2009) menyebutkanfasilitas pariwisata disuatu lokasi dibagi menjadi dua bagian yaitufasilitas primer dan penunjang. Pembagian dan penjelasannya adalahsebagai berikut:
a. Fasilitas primer adalah objek wisata dengan fungsi sebagai daya tarikutama wisata.
b. Fasilitas penunjang adalah bangunan diluar fasilitas primer yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan selama berada di tempat wisata.
Fasilitas penunjang dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu:
Ø Fasilitas Sekunder: bangunan yang bukan merupakan daya tarik utama wisata akan tetapi digunakan untuk memenuhi kebutuhan utama wisatawan seperti menginap, makan, membeli souvenir.
Ø Fasilitas Kondisional: bangunan yang digunakan oleh wisatawan maupun warga setempat seperti masjid, toilet umum dan warung.

Sunaryo (2013) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan fasilitas pendukung wisata adalah berbagai jenis fasilitas pendukung kepariwisataan yang berfungsi memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi wisatawan selama melakukan kunjungan di suatu destinasi, seperti: keamanan, rumah makan, biro perjalanan, took cinderamata, pusat informasi wisata, rambu wisata, fasilitas perbelanjaan, hiburan malam, fasilitas perbankan, dan beberapa skema kebijakan khusus yang diadakan untuk mendukung kenyamanan bagi wisatawan dalam kunjungannya ke destinasi.
2.4.2        Prasarana Wisata
Prasarana Wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya buatan manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanannya di daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air,telekomunikasi, terminal, jembatan, dan lain sebagainya. Untukkesiapan obyek - obyek wisata yang akan dikunjungi oleh wisatawan di daerah tujuan wisata, prasarana wisata tersebut perlu dibangun dengan disesuaikan dengan lokasi dan kondisi obyek wisata yang bersangkutan.Pembangunan prasarana wisata yang mempertimbangkan kondisi danlokasi akan meningkatkan aksesibilitas suatu objek wisata yang padagilirannya akan dapat meningkatkan daya tarik obyek wisata itu sendiri.Disamping berbagai kebutuhan yang telah disebutkan diatas, kebutuhan wisatawan yang lain juga perlu disediakan di daerah tujuan wisata,seperti bank, apotek, rumah sakit, pom bensin, pusat-pusatperbelanjaan, dan sebagainya (Suwantoro, 2004).
Prasarana pariwisata menurut Bagyono (2007) adalah semua fasilitas utama atau dasar yang memungkinkan sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang dalam rangka memberikan pelayanan kepada wisatawan. Yang termasuk prasarana pariwisata antara lain:
a.    Prasarana perhubungan yang meliputi jaringan jalan raya, jembatan
b.    dan terminal bus, rel kereta api dan stasiun, pelabuhan udara(airport), dan pelabuhan laut (seaport/harbour).
c.    Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih.
d.   Instalasi penyulingan bahan bakar minyak.
e.    Sistem pengairan atau irigasi untuk kepentingan pertanian,
f.     peternakan, dan perkebunan.
g.    Sistem perbankan dan moneter.
h.    Sistem telekomunikasi seperti telepon, pos, telegraf, faximile, telex,email, dan lain-lain.
i.      Prasarana kesehatan seperti rumah sakit dan pusat kesehatanmasyarakat.
j.      Prasarana keamanan, pendidikan, dan hiburan.



BAB III
METODE PENULISAN
3.1. Jenis Karya Ilmiah
Jenis karya ilmiah ini berupa karya non penelitian.Karya tulis ini merupakan hasil dari pengamatan lapangan dan dari kajian pustaka yang kami tulis dalam secara ilmiah. Penulis akan melakukan pengamatan secara langsung dan menuliskan apa yang kami alami dan laksanakan secara deskriptif.
3.2. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan secara langsung ketika penulis melakukan pengamatan lapangan.Penulis akan menggnakan wawancara untuk mengumpulkan data. Instrument yang akan kami gunakan adalah interview sheetyang akan kami lakukan dengan nara sumber yang tinggal di tempat penelitian. Yang akan kami wawancara antara lain dari perwakilan pemerintahan desa setempat, penduduk sekitar yang berprofesi sebagai nelayan, penjual makanan dan pengunjung.
Selain itu, penulis juga mencari data dari kajian pustaka yang berupa informasi dari buku dan internet. Kami juga akan mengumpulkan data dari dokumentasi berupa foto.
3.3. Cara Menganalisis Data
Data yang sudah terkumpul akan penulis pilah-pilah berdasarkan siapa yang penulis wawancarai. Setelah itu kami akan mengklasifikasikannya sesuai dengan topik yang ada didalam instrumen wawancara. Setelah itu kami akan mencocokkan data tersebut dengan teori yang telah penulis pelajari dalam bentuk kajian atau telaah pustaka.


BAB IV
RENCANA KEGIATAN
4.1. Deskripsi Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan Karya Ilmiah ini tertuang didalam tabel dibawah.
No
Jenis Kegiatan
Rencana Kegiatan
Tanggal Kegiatan
Keterangan
1
Disposisi diterima TU

Konsultasi
5 Januari 2016

2
Disposisi diterima KIR

Konsultasi
7 Januari 2016

3
Sosialisasi ke peserta plus rencana kerja
Berdiskusi mengenai target, tujuan dan waktu pelaksanaan kegiatan
11 Januari 2016
Jadwal KIR/sewaktu-waktu
4
Bab I Pendahuluan

Menulis bab pendahuluan yang isinya latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian/penulisan
18 Januari 2016
Jadwal KIR/sewaktu-waktu
5
Bab II Kajian Teori/Landasan Teoritis
Mengkaji teori/pengetahuan/referensi yang sesuai dengan variable penelitian/penulisan
25 Januari 2016
Jadwal KIR
6
Bab III Metode Penulisan Karya Ilmiah
-     Observasi/wawancara
-     Menganalisa data
8-10 Pebruari 2016
Pekan pertama Pebruari
7
Bab IV Pembahasan & lampiran
Melengkapi berkas dan lampiran
11-12 Pebruari 2016
Pekan ke dua Pebruari
8
Pengiriman berkas
Pengiriman berkas lewat online dan pos
13 Pebruari 2016
Sesuai brosur
9
Pengumuman finalis
Pengumuman finalis
20 Pebruari 2016
Sesuai brosur
10
Konfirmasi kehadiran
Konfirmasi kehadiran
21-22 Pebruari 2016
Sesuai brosur
11
Presentasi
Presentasi
27 Pebruari
Sesuai brosur

4.2. Permohonan Izin Observasi Lapangan
Seperti yang telah penulis sebutkan didalam Bab III mengenai metode penulisan, maka dalam hal ini penulis membutuhkan waktu untuk mengumpulkan data melalui observasi lapangan. Didalam observasi tersebut kami juga akan melakukan wawancara terhadap nara sumber di Pantai Prigi yang terletak di Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo. Salah satunya yang akan penulis wawancarai adalah perwakilan dari pemerintahan desa.
Untuk itu penulis memohon izin, saran, arahan, dan masukan kepada Bapak Kepala Sekolah untuk melaksanakan kegiatan ini. Semua petuah dari sekolah akan kami laksanakan sebaik-baiknya.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar