PROPOSAL KARYA ILMIAH REMAJA
LARUNG SEMBUNYO
PANTAI PRIGI : SEJARAH LOKAL SEBAGAI POTENSI WISATA BUDAYA KABUPATEN TRENGGALEK

Penulis:
1. Rita Lutfi
Fitriani Kelas X Mipa 1
2. Rizka Yusrina Rahmania Kelas X Mipa 1
3. Sahrul Aldi Nugraha Kelas X Mipa 1
SMA NEGERI 2 TRENGGALEK
Jl. Soekarno-Hatta Gang
Siwawan Trenggalek
LEMBAR
PENGESAHAN
Karya
Ilmiah ini disusun untuk dilombakan di Hicom 2016 LKTI Tingkat SMA/MA se-Jawa
Timur yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya.
1. Judul
: Larung Sembonyo Pantai Prigi: Sejarah Lokal sebagai
Potensi Wisata Budaya Kabupaten Trenggalek
2. Kategori :
SMA
3. Anggota Kelompok :
1)
Rita Lutfi
Fitriani Kelas X Mipa 1
2)
Rizka Yusrina Rahmania Kelas X Mipa 1
3)
Sahrul Aldi Nugraha Kelas X Mipa 1
4. Guru Pembimbing :
Wawan Prasetyo,M.Pd
Trenggalek, 9 Pebruari 2016
Guru
Pembimbing Ketua
Kelompok
Wawan
Prasetyo, M.Pd Rita
Lutfi Fitriani
NIP: -
BAB 1
PENDAHULUAN
Bab I ini membahas tentang latar belakang, rumusan
masalah, tujuan dan manfaat penulisan.
1.1
Latar
Belakang
Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten di propinsi
Jawa Timur yang terletak di bagian selatan dari wilayah propinsi Jawa Timur.Kabupaten
ini terletak pada kordinat 111o 24’ hingga 112o 11’ bujur
timur dan 7o 63’ hingga 8o 34’ lintang selatan.Luas
wilayahnya 1.261,40 Km2. Kabupaten Trenggalek mempunyai 14
kecamatan.Tiga kecamatan diantaranya berbatasan langsung dengan laut
selatan.Tiga kecamatan tersebut adalah kecamatan Watulimo, Munjungan, dan
Panggul.Di kecamatan Watulimo terdapat beberapa daerah yang pantainya sudah
tidak asing bagi masyarakat Trenggalek dan sekitarnya.Pantai tersebut
diantaranya adalah Pantai Prigi, Pantai Karanggongso, Pantai Damas, Pantai Cengkrong
dan lain-lain.
Di kecamatan Watulimo, Pantai Prigi mempunyai ciri khas yang
berbeda kalau dilihat dari aspek budayanya.Disana ada upacara adat yang
dilaksanakan pada hari Senin Kliwon pada bulan Selo setiap tahun.upacara
tersebut disebut dengan upacara larung sembonyo. Konon katanya upacara adat
tersebut diadakan secara turun temurun untuk menghormati leluhur pendiri desa
tasikmadu dimana pantai prigi berada.Upacara tersebut juga diyakini untuk
menjaga keseimbangan dengan alam sekitarnya serta alam semesta.Pelaksanaannya
dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani berkaitan dengan mata pencaharian
sebagai nelayan, petani serta merupakan sarana menghormati leluhurnya yang
berjasa dalam membuka kawasan teluk Prigi.
Upacara tesebut dilakukan dengan tujuan supaya diberi berkah dan
memperoleh hasil laut dan hasil panen yang melimpah. Sesuai dengan keyakinan
mereka, masyarakat takut akan tertimpa wabah penyakit atau terkena bencana alam
kalau tidak melaksanakan upacara ritual tersebut.
Terlepas dari unsur budayanya tersebut, upacara adat ini bisa
menarik para wisatawan untuk datang karena mereka tidak hanya menikmati
keindahan alam saja melainkan juga keberagaman budaya yang mungkin tidak ada di
daerah para wisatawan tersebut.
Dengan hadirnya banyak wisatakan juga diharapkan kegiatan
ekonomi daerah sekitar pantai prigi juga meningkat.Disepanjang jalan menuju
daerah Pantai Prigi banyak penjual durian, manggis, dan salak. Hal itu secara
otomatis bisa meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat prigi tetapi juga
daerah terluar Pantai Prigi seperti kecamatan Durenan atau bahkan kecamatan
Bandung kota Tulungagung yang berbatasan langsung dengan kecamatan watulimo
yang menjadi akses menuju ke pantai.
Jumlah pengunjung yang hadir ketika ada upacara adat tersebut
bisa menjadi promosi wisata secara langsung. Mereka yang datang pasti akanbercerita
ke keluarga, teman atau mungkin juga rekan bisnis mereka. Hal itu akan sangat
berdampak positif terhadap image yang
pantai Prigi miliki, misalnya tentang keadaan geografisnya, keramahan
penduduknya, para pegiat ekonomi, nelayan dan lain-lain. Yang lebih penting
lagi adalah bahwa mereka juga akan tahu tentang budaya masyarakat trenggalek
dan khususnya masyarakat kecamatan Watulimo atau Pantai Prigi.
Agar image Pantai Prigi
tetap terjaga baik supaya para wisatawan akan betah dan senang berkunjung ke
Pantai Prigi, masyarakat Watulimo tidak hanya merawat dan menjaga fasilitas
saja tetapi juga menyediakan fasilitas yang cukup dan memadai. Sehingga para
pengunjung akanmerasa nyaman berada di Pantai Prigi. Ketika mereka akan ke
toilet, ke tempat ibadah, mau membeli makanan minuman, atau untuk istirihat
mereka seharusnya tidak menemukan kesulitan.
Selain terus merawat dan memperbaiki serta membangun fasilitas
di Pantai Prigi, hal yang harus dipertahankan dan terus dilestarikan adalah
dengan melestarikan adat istiadat, budaya dan sejarah local pantai prigi.Hal
itu bisa menjadi nilai jual karena ketika pengunjung yang berkunjung ke prigi
tidak hanya disuguhi dengan keadaan pantai yang indah saja tetapi
kegiatan-kegiatan yang bersifat tradisional.Sehingga budaya dan tradisi tetap
terjaga seiring dengan berkembangnya zaman dan dengan semakin banyaknya
pengunjung yang mana mungkin mereka berasal dari budaya yang berbeda.
Oleh
karenaitu penulis menulis tentang Larung Sembonyo Pantai Prigi: Sejarah Lokal sebagai
Potensi Wisata Budaya Kabupaten Trenggalek.
1.2. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang diatas penulis tertarik untuk meneliti bagaimana Larung Sembunyo
Pantai Prigi sebagai sejarah lokal sebagai tempat yang berpotensi menjadi
Wisata Budaya di Kabupaten Trenggalek.
1.3. Tujuan Penulisan
Berangkat dari rumusan masalah tersebut diatas,
penulis akan mencoba memahami dan mengerti serta untuk mengetahui secara
empiris bagaimana Larung Sembunyo Pantai Prigi sebagai sejarah lokal sebagai tempat
yang berpotensi menjadi Wisata Budaya di Kabupaten Trenggalek.
1.4. Manfaat Penulisan
1) Bagi
Penulis
Dari apa yang akan penulis lakukan, kami
berharap karya ilmiah ini akan berguna bagi kami sebagai media pembelajaran
untuk meningkatkan kemampuan kami didalam mata pelajaran di sekolah khususnya
pelajaran Bahasa Indonesia. Selain itu kami berharap apa yang akan kami lakukan
ini akan membuka wawasan kami khususnya tentang budaya sejarah dan pariwisata
lokal sehingga kami mempunyai pemahaman yang akan membuat kami lebih peduli dan
peka terhadap lingkungan.
2) Bagi
Pembaca
Setelah pembaca membaca karya ilmiah ini, penulis berharap hal ini bisa
membuat pembaca lebih tertarik untuk tidak hanya berkunjung ke pantai saja
untuk refreshing melainkan juga ikut mempromosikannya kepada saudara, atau
keluarga dan teman mereka tentang keunggulan pantai Prigi. Penulis juga berharap
pembaca juga ikut terlibat didalam usaha pemerintah untuk menjaga kelestarian
budaya lokal dan tempat pariwisata khususnya yang ada di Kabupaten Trenggalek.
3) Bagi
Pemerintah
Dari karya ilmiah yang penulis lakukan
ini, kami berharap bisa berkontribusi terhadap upaya pemerintah didalam menjaga
potensi sejarah budaya lokal. Kami juga berharap pemerintah semakin
memperhatikan sejarah-sejarah budaya di pantai-pantai di Trenggalek dan membuat
potensi wisata budaya di Trenggalek semakin aman, indah, bersih, dengan
fasilitas yang lengkap dan memadai agar para wisatawan merasa nyaman untuk
berkunjung ke Kabupaten Trenggalek, khususnya di Pantai Prigi
BAB II
TELAAH PUSTAKA
Bab ini membahas tentang sejarah lokal dan letak
geografis Kabupaten Trenggalek serta potensi wisata budayanya.
2.1.Sejarah
Menurut:
1)
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Sejarah adalah:
a)
Asal-usul (keturunan) silsilah
b)
Kejadian dan peristiwa yang benar-benar
terjadi pada masa lampau, riwayat, tambo, cerita
c)
Pengetahuan atau uraian tentang
peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau
2) Aristoteles
Sejarah adalah
satu sistem yang meneliti satu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk
kronologi. Pada masa yang sama, menurut beliau juga sejarah adalah
peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod, atau
bukti-bukti yang konkret.
3)
Moh. Hatta
Sejarah bukan
sekadar melahirkan ceritera dari kejadian masa lalu sebagai masalah.Sejarah
tidak sekedar kejadian masa lampau, tetapi pemahaman masa lampau yang di
dalamnya mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematika pelajaran
bagi manusia berikutnya.
4)
Ertis Stern
Sejarah itu
timbul dari suatu persoalan yang hidup dan bahkan melayani hidup masyarakat.
Karena itu, sejarah akan berubah-ubah bersama dengan berubahnya waktu, harapan,
dan pemikiran rasa cemas yang tumbuh kemudian.
2.2.Tradisi
Tradisi menurut terminologi, seperti yang
dinyatakan oleh Siti Nur Aryani dalam karyanya, Oposisi
Pasca Tradisi, tercantum bahwa tradisi merupakan produk sosial dan
hasil dari pertarungan sosial politik yang keberadaannya terkait dengan
manusia.Atau dapat dikatakan pula bahwa tradisi adalah segala sesuatu
yang turun temurun,yang terjadi atas interaksi antara klan yang satu dengan
klan yang lain yang kemudian membuat kebiasaan-kebiasaan satu sama lain yang
terdapat dalam klan itu kemudian berbaur menjadi satu kebiasaan. Dan apabila
interaksi yang terjadi semakin meluas maka kebiasaan dalam klan menjadi tradisi
atau kebudayaan dalam suatu ras atau bangsa yang menjadi kebanggaan mereka.
2.3.Kebudayaan
Menurut:
1)
Sir Edward Brnett Taylor
Kebudayaan
sebagai kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan,kepercayaan, kesenian,
hukum, mora, kebiasaan, dn lain-lain.
2)
Atmadja
Kebudayaan
adalah kebudayaan yang timbul sebagai suatu usaha budi daya rakyat Indonesia
seluruhnya
3)
Dalam Koentjaraningrat, (2003 : 74 )
J.J Honingmann mengatakan bahwa ada tiga wujud kebudayaan, yaitu :
a.
Ideas
Wujud tersebut
menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba,
dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat
dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.Budaya ideal mempunyai fungsi
mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan
perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun.Kebudayaan ideal ini
bisa juga disebut adat istiadat.
b.
Activities
Wujud tersebut
dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari
manusia itu sendiri.Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan
karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang
berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam
masyarakat.Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.
c.
Artifacts
Wujud ini
disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik.Sifatnya
paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan.Contohnya : candi,
bangunan, baju, kain komputer dll.
4)
Dalam Koentjaraningrat. 2003:81)
terdapat tujuh unsur kebudayaan menurut C. Kluckhon, antara lain:
a.
Bahasa
b.
Sistem pengetahuan
c.
Organisasi sosial
d.
Sistem peralatan hidup dan teknologi
e.
Sistem mata pencarian hidup
f.
Sistem religi
g.
Kesenian
2.4.Atraksi
dan Daya Tarik Wisata
Menurut Yoeti
(1985), sebuah atraksi wisata memiliki daya tarikyang kuat karena wisatawan
memiliki harapan atas apa yang dilihat (something to see), apa yang
dilakukan (something to do), dan apa yang dibeli (something to buy).
Suatu Daya Tarik Wisata dapat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan harus
memenuhi syarat-syarat untuk pengembangan daerahnya, menurut Maryani (1991),
syarat-syarat tersebut adalah:
a. What to
see.
Di tempat tersebut harus ada obyek dan atraksi wisata
yang berbeda dengan yang dimiliki daerah lain. Dengan kata lain daerah tersebut
harus memiliki daya tarik khusus dan atraksi budaya yang dapat dijadikan “entertainment”
bagi wisatawan. What to see meliputi pemandangan alam, kegiatan,
kesenian dan atraksi wisata.
b. What to
do.
Di tempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat dan
disaksikan,harus disediakan fasilitas rekreasi yang dapat membuat wisatawan
betah tinggal lama ditempat itu.
c. What to
buy.
Tempat tujuan wisata harus tersedia fasilitas untuk
berbelanja terutama barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh – oleh
untuk di bawa pulang ke tempat asal.
d. What to
arrive.
Di dalamnya termasuk aksesibilitas, bagaimana kita
mengunjungi daya tarik wisata tersebut, kendaraan apa yang akan digunakan dan
berapa lama tiba ketempat tujuan wisata tersebut.
e. What to
stay.
Bagaimana wisatawan akan tingggal untuk sementara selama
dia berlibur. Diperlukan penginapan - penginapan baik hotel berbintang atau
hotel non berbintang dan sebagainya.
2.4.1
Fasilitas Pariwisata
Jansen - Verbeke
(1995) dalam Rahmawati (2009) menyebutkanfasilitas pariwisata disuatu lokasi
dibagi menjadi dua bagian yaitufasilitas primer dan penunjang. Pembagian dan
penjelasannya adalahsebagai berikut:
a. Fasilitas primer
adalah objek wisata dengan fungsi sebagai daya tarikutama wisata.
b. Fasilitas
penunjang adalah bangunan diluar fasilitas primer yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan wisatawan selama berada di tempat wisata.
Fasilitas
penunjang dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu:
Ø Fasilitas Sekunder: bangunan yang bukan merupakan daya tarik
utama wisata akan tetapi digunakan untuk memenuhi kebutuhan utama wisatawan
seperti menginap, makan, membeli souvenir.
Ø Fasilitas Kondisional: bangunan yang digunakan oleh
wisatawan maupun warga setempat seperti masjid, toilet umum dan warung.
Sunaryo (2013)
mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan fasilitas pendukung wisata adalah
berbagai jenis fasilitas pendukung kepariwisataan yang berfungsi memberikan
kemudahan dan kenyamanan bagi wisatawan selama melakukan kunjungan di suatu
destinasi, seperti: keamanan, rumah makan, biro perjalanan, took cinderamata,
pusat informasi wisata, rambu wisata, fasilitas perbelanjaan, hiburan malam,
fasilitas perbankan, dan beberapa skema kebijakan khusus yang diadakan untuk
mendukung kenyamanan bagi wisatawan dalam kunjungannya ke destinasi.
2.4.2
Prasarana Wisata
Prasarana Wisata
adalah sumber daya alam dan sumber daya buatan manusia yang mutlak dibutuhkan
oleh wisatawan dalam perjalanannya di daerah tujuan wisata, seperti jalan,
listrik, air,telekomunikasi, terminal, jembatan, dan lain sebagainya.
Untukkesiapan obyek - obyek wisata yang akan dikunjungi oleh wisatawan di
daerah tujuan wisata, prasarana wisata tersebut perlu dibangun dengan
disesuaikan dengan lokasi dan kondisi obyek wisata yang
bersangkutan.Pembangunan prasarana wisata yang mempertimbangkan kondisi
danlokasi akan meningkatkan aksesibilitas suatu objek wisata yang
padagilirannya akan dapat meningkatkan daya tarik obyek wisata itu
sendiri.Disamping berbagai kebutuhan yang telah disebutkan diatas, kebutuhan
wisatawan yang lain juga perlu disediakan di daerah tujuan wisata,seperti bank,
apotek, rumah sakit, pom bensin, pusat-pusatperbelanjaan, dan sebagainya
(Suwantoro, 2004).
Prasarana
pariwisata menurut Bagyono (2007) adalah semua fasilitas utama atau dasar yang
memungkinkan sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang dalam rangka
memberikan pelayanan kepada wisatawan. Yang termasuk prasarana pariwisata
antara lain:
a.
Prasarana
perhubungan yang meliputi jaringan jalan raya, jembatan
b.
dan
terminal bus, rel kereta api dan stasiun, pelabuhan udara(airport), dan
pelabuhan laut (seaport/harbour).
c.
Instalasi
pembangkit listrik dan instalasi air bersih.
d.
Instalasi
penyulingan bahan bakar minyak.
e.
Sistem
pengairan atau irigasi untuk kepentingan pertanian,
f.
peternakan,
dan perkebunan.
g.
Sistem
perbankan dan moneter.
h.
Sistem
telekomunikasi seperti telepon, pos, telegraf, faximile, telex,email,
dan lain-lain.
i.
Prasarana
kesehatan seperti rumah sakit dan pusat kesehatanmasyarakat.
j.
Prasarana
keamanan, pendidikan, dan hiburan.
BAB III
METODE PENULISAN
3.1. Jenis Karya Ilmiah
Jenis karya ilmiah ini berupa karya non
penelitian.Karya tulis ini merupakan hasil dari pengamatan lapangan dan dari
kajian pustaka yang kami tulis dalam secara ilmiah. Penulis akan melakukan
pengamatan secara langsung dan menuliskan apa yang kami alami dan laksanakan
secara deskriptif.
3.2. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan secara langsung ketika
penulis melakukan pengamatan lapangan.Penulis akan menggnakan wawancara untuk
mengumpulkan data. Instrument yang akan kami gunakan adalah interview sheetyang akan kami lakukan
dengan nara sumber yang tinggal di tempat penelitian. Yang akan kami wawancara
antara lain dari perwakilan pemerintahan desa setempat, penduduk sekitar yang
berprofesi sebagai nelayan, penjual makanan dan pengunjung.
Selain itu, penulis juga mencari data dari kajian
pustaka yang berupa informasi dari buku dan internet. Kami juga akan
mengumpulkan data dari dokumentasi berupa foto.
3.3. Cara Menganalisis Data
Data yang sudah terkumpul akan penulis pilah-pilah
berdasarkan siapa yang penulis wawancarai. Setelah itu kami akan
mengklasifikasikannya sesuai dengan topik yang ada didalam instrumen wawancara.
Setelah itu kami akan mencocokkan data tersebut dengan teori yang telah penulis
pelajari dalam bentuk kajian atau telaah pustaka.
BAB IV
RENCANA KEGIATAN
4.1. Deskripsi Rencana
Kegiatan
Rencana kegiatan Karya Ilmiah ini tertuang didalam
tabel dibawah.
|
No
|
Jenis
Kegiatan
|
Rencana
Kegiatan
|
Tanggal Kegiatan
|
Keterangan
|
|
1
|
Disposisi diterima TU
|
Konsultasi
|
5 Januari 2016
|
|
|
2
|
Disposisi diterima KIR
|
Konsultasi
|
7 Januari 2016
|
|
|
3
|
Sosialisasi ke peserta plus rencana kerja
|
Berdiskusi mengenai target, tujuan dan waktu
pelaksanaan kegiatan
|
11 Januari 2016
|
Jadwal KIR/sewaktu-waktu
|
|
4
|
Bab I Pendahuluan
|
Menulis bab pendahuluan yang isinya latar belakang,
rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian/penulisan
|
18 Januari 2016
|
Jadwal KIR/sewaktu-waktu
|
|
5
|
Bab II Kajian Teori/Landasan Teoritis
|
Mengkaji teori/pengetahuan/referensi yang sesuai
dengan variable penelitian/penulisan
|
25 Januari 2016
|
Jadwal KIR
|
|
6
|
Bab III Metode Penulisan Karya Ilmiah
|
-
Observasi/wawancara
-
Menganalisa data
|
8-10 Pebruari 2016
|
Pekan pertama Pebruari
|
|
7
|
Bab IV Pembahasan & lampiran
|
Melengkapi berkas dan lampiran
|
11-12 Pebruari 2016
|
Pekan ke dua Pebruari
|
|
8
|
Pengiriman berkas
|
Pengiriman berkas lewat online dan pos
|
13 Pebruari 2016
|
Sesuai brosur
|
|
9
|
Pengumuman finalis
|
Pengumuman finalis
|
20 Pebruari 2016
|
Sesuai brosur
|
|
10
|
Konfirmasi kehadiran
|
Konfirmasi kehadiran
|
21-22 Pebruari 2016
|
Sesuai brosur
|
|
11
|
Presentasi
|
Presentasi
|
27 Pebruari
|
Sesuai brosur
|
4.2. Permohonan Izin
Observasi Lapangan
Seperti yang telah penulis sebutkan didalam Bab III
mengenai metode penulisan, maka dalam hal ini penulis membutuhkan waktu untuk
mengumpulkan data melalui observasi lapangan. Didalam observasi tersebut kami
juga akan melakukan wawancara terhadap nara sumber di Pantai Prigi yang
terletak di Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo. Salah satunya yang akan penulis
wawancarai adalah perwakilan dari pemerintahan desa.
Untuk itu penulis memohon izin, saran, arahan, dan
masukan kepada Bapak Kepala Sekolah untuk melaksanakan kegiatan ini. Semua
petuah dari sekolah akan kami laksanakan sebaik-baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar